HANYA HARAPAN SEDERHANA ๐
Assalamua'alaikum wr, wb...
Hari ini tepat hari ke-9 puasa Ramadhan. Semoga semakin dilimpahkan kebahagiaan, rejeki dan semangat ibadah yang lebih baik. Mungkin bagi sebagian orang, Ramadhan terasa biasa saja. Tapi untuk beberapa diantaranya banyak yang merenungi dan bertanya dalam hati, apakah Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir untuk saya, apakah masih bisa merasakan Ramadhan bersama keluarga yang begitu hangat, penuh canda tawa. Bagaimana kalau Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir?
Semua punya harapan dan keinginan untuk bisa panjang umur, namun tubuh manusia seiring bertambahnya usia, semakin rapuh dan semakin lemah, beberapa fungsi organ juga ikut melemah. Tentu harapan baik yang semua orang inginkan adalah untuk hidup bahagia dan penuh berkah. Terutama untuk saya pribadi sebagai seseorang yang mencoba mencurahkan harapan saya. Saya seorang wanita yang tahun 2026 ini akan memasuki usia 34 tahun. Sudah cukup tua bukan?๐. Dan saya belum menikah. Sebagai seseorang yang belum menikah, saya sering membayangkan, bagaimana rasanya Ramadhan bersama anak dan suami. Saya merasa kalau hidup saya terlalu lama untuk tinggal bersama orangtua. Bukan karena saya tidak suka untuk bersama keluarga saya, saya juga ingin sampai di titik dimana saya bisa merasakan menjadi seorang ibu dan seorang istri. Mengapa saya belum menikah, apakah saya tidak pantas menjadi seorang istri dan seorang ibu? Harapan yang setiap tahun tiada henti saya langitkan bersama do'a yang hampir putus asa. Entah berapa juta do'a yang menunggu didepan pintu Rabb-Ku, mereka semua menunggu kapan pintu itu dibukakan.
Jika pada akhirnya harapan dan keinginan itu terwujud, mungkin bukan senyum yang pertama kali saya berikan, mungkin dengan air mata, tentu air mata bahagia yang penuh haru. Saya tidak tahu seperti apa di depan sana, tapi apapun itu, saya siap untuk menerimanya. Tiada yang lebih membahagiakan rasanya menjadi seorang ibu dan seorang istri, saya yakin.
Harapan sederhana, dengan jutaan do'a yang diiringi air mata. Sedih, putus asa dan hampir lupa bagaimana membahagiakan diri sendiri. Overthinking dan hampir membenci semua pertanyaan yang datang untuk kata "kapan". Tidak ada jawaban hanya secibir jawaban yang mereka juga sebenernya engga butuh jawaban, terdengar seperti hanya basa basi tanpa memikirkan isi hati orang yang ditanya. Sebenernya tidak apa-apa untuk mendengar pertanyaan kapan dari siapa saja, tapi justru terkadang desakan datang dari keluarga terdekat. Entah berapa kali saya menangis gara-gara hal ini, sampai pernah suatu ketika saya sudah dibatas kesabaran, dan saya menangis sambil mengutarakan isi hati. Intinya memang di umur yang sudah begitu dewasa, apalagi di kampung setidaknya sudah punya 1 anak hampir lulus SD. Orangtua mendesak, sementara saya tidak ada pilihan harus bagaimana. Mungkin mereka menganggap saya aib karena memang terlambat menikah, disisi lain saya bilang ke orangtua, saya juga tidak bisa memilih orangtua, saya tidak bisa memilih ingin lahir di keluarga yang bagaimana. Sesaat dadaku penuh sesak, siapa yang akan memahami isi hati saya? Tidak ada. Bagaimana pun anak mendebat, saya tidak akan pernah menang dan tidak akan bisa mereka pahami.
Kelak siapapun yang membaca tulisan ini, semoga bisa sedikit memahami apa yang pernah saya rasakan dan saya harapkan. Aamiin๐
Komentar
Posting Komentar